Welcoming the shadow-self

Apakah ketika kita memilih jalan spiritual lalu selamanya kita akan merasa tenang dan damai?
Apakah jalan spiritual adalah jalan yang selalu lurus?
Apakah jalan spiritual adalah jalan yang selalu terang-benderang?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanyakan kepada saya, jawaban saya akan tetap sama. Tidak.

I believe, since the very beginning, both light and shadow are already part of the creation. Jiwa adalah jiwa, yang kemudian mewujud fisik dengan sepercik cahaya. Bukankah ketika cahaya bertabrakan dengan sebuah objek pasti akan menimbulkan bayangan? Segala jelmaan memiliki bayangan.

 

Meet your shadow in meditation

Beberapa bulan pertama saya melakukan praktek meditasi, saya akan langsung membuka mata dan berhenti bermeditasi ketika dalam meditasi tersebut saya melihat sosok yang menyeramkan. Tidak hanya wajah dan penampilannya yang menyeramkan, namun perasaan dan energi yang dipancarkan dari makhluk tersebut pun memberikan kesan yang tidak nyaman pada saya. It didn’t make sense to me back then. I mean, in meditation we see angels, spirit guides, ascended masters, ETs, ancestors. But scary creatures? It scared me a lot!

Sampai beberapa minggu yang lalu, sosok menyeramkan kembali terlihat ketika saya bermeditasi. This time, I didn’t stop. I didn’t open my eyes. I was not scared. I tried to take a position as an observer. I welcomed it, as saying “here you are”. Then suddenly I had a revelation: I knew that it was my shadow-self, the part of me that represents fear, hatred, doubt, sadness, and anger. Without any effort, it just disappeared in a moment.

Yes, you even meet your shadow in your meditation. And few days ago, I found a nice article by my favorite spiritual Youtuber and blogger, Gigi Young, titled “Seven different types of beings you may see in meditation and why”. It’s indeed a confirmation of what I’ve experienced in my meditation: seeing scary creatures. You should check it out too!

 

Light and shadow in the creation

Maybe because I’ve seen many (supposedly) “good” people show their dark side since I was very young, I really resonate with the idea that spiritual path is not always about experiencing happiness and peace.

Saya percaya bahwa dalam setiap penciptaan, terutama penciptaan wujud, cahaya dan bayangan adalah penyertanya. Kita adalah manusia, makhluk yang entah merupakan fragmentasi ke-berapa dari Sang Sumber. Salah satu makhluk dengan polaritas yang tinggi. Artinya, cahaya dan bayangan yang menyertai penciptaan kita semakin polar sifatnya. Semakin ingin menunjukkan perbedaan masing-masing.

It’s easy to look at some real examples. Kita begitu bersemangat dengan konsep antonim atau lawan kata. Adanya peringkat, adanya jenjang pendidikan, adanya program pemberantasan kemiskinan. Itu adalah konsep-konsep yang lahir dari sifat polaritas manusia. Termasuk konsep-konsep yang saya jalani hingga hari ini adalah turunan dari kepolaritasan manusia.

Menerima bahwa diri kita sendiri, sebagai manusia, adalah diri yang penuh kepolaritasan bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi sebagian besar dari kita yang memilih jalan spiritual. Tidak ingin lagi merasa sedih, tidak ingin lagi merasa marah, tidak ingin lagi merasa gelisah. Is that really our true destination? No more pain, no more sadness, no more fear, no more doubt? In summary, no more shadow?

Bagi saya, menolak bayangan adalah menolak penciptaan itu sendiri. Bayangan tidak perlu ditolak, itu yang saya pelajari dari pengalaman saya sendiri. Sedih, marah, takut, ragu tidak perlu ditolak. Semakin menolak akan semakin menjadi. Dua tahun lalu, saya memutuskan untuk menerimanya. Menerima kemanusiaan saya. Merangkul bayangan saya sendiri, menyadari kehadirannya, mengakui keberadaannya. Memberikannya kesempatan untuk berbicara, memberikannya tempat dalam diri saya.

Jalan ini mengijinkan bayanganku berjalan bersisian dengan cahayaku.

Mereka bergandengan, sesekali saling memeluk.

Hingga suatu saat mereka melebur.

Dan polaritas itu menipis.

Dan aku bukan lagi perwujudan fisik.

Satya

Satya

Satya uses tarot and oracle cards as tools to guide and heal others, in which meditation is incorporated to help her get centered and align with her higher self. Satya is also passionate about flower and plant healing with trainings in Bach Flower Remedies. She is the author of self-published book "Star and The Dust", a compendium of poetries exploring wisdom from earth and wisdom from stars and how to bridge both.

Satya loves mathematics and science, also esoteric and metaphysical things. She loves gazing upon the stars, also walking in a garden full of flowers. She loves working with numbers, also with words. Besides growing House of Prajna with her husband, Jati, she is currently pursuing her PhD in Operations Research at North Carolina State University in the USA. Satya believes that science and spirituality are a “twin flame”; to her, both of them speak the same thing with just different languages.

Visit her on IG @satyapparamita