The divinity of numbers

I’m not a numerologist (yet). But I’m not bad with numbers either. I mean, I have advanced trainings in both statistics and mathematics. I work a lot with numbers, data, and algorithms. As a full time statistician (tenure and research) with working experience as a (junior) data scientist, I love and have capacity working with numbers.

For mathematician and statistician, numbers are words.
It’s our language.
We speak with it.

We see the world through numbers. We reveal both hidden and unhidden patterns based on numbers. We predict the future based on numbers. We conclude whether A is significantly better than B (or not) based on numbers. You see that, in the hand of mathematician or statistician or data scientist, numbers can tell a lot.

Namun suatu hari saya berpikir tentang makna angka itu sendiri. Tepatnya, makna tunggal dari sebuah angka. Bagaimana jika sekumpulan angka tersebut berdiri sendiri? Tanpa campur tangan notasi, definisi, teorema, hipotesis, formula, algoritma, dan metode. Tanpa intensi apa-apa selain melihat angka tersebut sebagai dirinya sendiri secara utuh dan tunggal.

That was my motivation to dive into numerology.

Image: https://www.consciousreminder.com

Pythagoras’s three-part curriculum
Saya pertama kali “mengenal” Pythagoras melalui teorema-nya tentang hubungan fundamental antara tiga sisi segitiga siku-siku dalam geometri Euclid, sebuah sistem matematik yang digagas oleh seorang matematikawan Yunani bernama Euclid. Seorang filsuf dengan inti ajaran:

“Know thyself, then thou shalt know the universe and God.”

Dalam buku The Complete Book of Numerology: Discovering the Inner Self, David A. Philipps membahas bagaimana Pythagoras mengagumi angka. Pythagoras mendirikan sebuah universitas di Crotona, sebuah kota koloni yang berlokasi di selatan Itali, sekitar tahun 532 SM. Pendaftaran dibuka untuk semua orang yang mencari ilmu, tanpa memandang gender, ras, warna kulit, dan dan kepercayaan. Syaratnya hanya satu: berkomitmen untuk belajar secara intens.

Pelajaran utama yang diajarkan di universitas tersebut adalah self-development dan disusun dalam kurikulum yang terdiri dari tiga bagian. Trimester pertama adalah bagian yang disebut dengan “Preparation”, terdiri dari pembelajaran intensif tentang “ten mathematical disciplines” yang disusun untuk mengajarkan siswa tentang “empire over the self”.

Trimester kedua disebut “Purification”, tentang pemahaman terhadap hidup, tujuan hidup, dan bagaimana menjalin keharmonisan dengan tujuan hidup, yang diajarkan melalui “Science of Numbers” atau yang saat ini dikenal dengan numerologi. Pada trimester akhir, siswa diajarkan tentang konsep “Perfection” yang membahas integrasi komponen fisik, mental, dan spiritual pada manusia dan kehidupan.

In numerology, numbers are vibrations.
Every sound, colour, fragrance, and thought is a vibration.
Each of them is connected to its inherent numbers.
Each of them contains a unique and distinct numerical bond.
Numbers are the essence of life’s expression.

Metaphysical meaning of numbers
Dalam numerologi, semua angka terhubung dengan angka absolut, yaitu 1, angka yang merupakan ekspresi dari ego. Tanpa angka 1, hidup manusia akan kehilangan ekspresi dan tidak lagi berwujud dalam dimensi ketiga yang kita tinggali ini. Berikut ini adalah arti angka secara metafisika berdasarkan ajaran Pythagoras 2,500 tahun lalu, yang saya ringkas dari The Complete Book of Numerology: Discovering the Inner Self.

SATU adalah satu-satunya angka absolut dan merupakan simbol dari divine expression. Angka ini adalah kunci untuk ekspresi diri secara verbal dan ekspresi dari ego sebagai mikrokosmos dalam makrokosmos. Angka ini adalah kunci untuk kemampuan berkomunikasi.

DUA merupakan simbol dualitas manusia dan kebutuhan manusia untuk menjadi bagian dari sepasang. Angka ini adalah jalan menuju sensitivitas dan intuisi.

TIGA adalah jalan menuju kesadaran dan pemahaman rasional, fokus dari aktivitas otak kiri, dan kunci untuk memori. Angka ini disimbolkan sebagai segitiga yang menunjukkan keterhubungan pikiran, jiwa, dan tubuh.

EMPAT adalah kunci menuju keteraturan, praktikalitas, dan pengorganisasian. Angka ini disimbolkan sebagai persegi yang merupakan dasar dari semua konstruksi praktikal.

LIMA adalah angka spiritual yang melambangkan cinta dan kebebasan berekspresi.

ENAM melambangkan kreativitas serta integrasi otak bagian kiri dan kanan. Angka ini juga melambangkan lawan dari kreativitas, yaitu penghancuran, yang merupakan ekspresi kreatif negatif berupa kekhawatiran, stres, kegelisahan, dan depresi.

TUJUH adalah simbol dari tubuh manusia dan ketujuh cakranya. Angka ini adalah angka “teaching learning”, angka “practical philosophical experience”.

DELAPAN adalah angka spiritual yang paling aktif. Angka ini adalah angka tentang kebijaksanaan yang diekspresikan secara intuitif melalui cinta dan kasih sayang.

SEMBILAN melambangkan ambisi (physical aspect), tanggungjawab (thinking aspect), dan idealisme (spiritual aspect) pikiran dalam bertindak.

NOL lebih dikenal sebagai simbol dibandingkan sebagai angka. Secara filosofis dan matematis, nol merepresentasikan kehampaan/nothing (dalam matematika, sebagai numerator, ketika nol dibagi dengan angka berapapun hasilnya pasti nol) sekaligus keutuhan/everything (sebagai denominator, ketika angka berapapun dibagi nol hasilnya pasti tak hingga). It is a mystical symbol.

 

I guess through numerology I’m going to love numbers more. Not as a part of the data to develops prediction or classification model, but just as they are. Solely and wholly.

Satya

Satya

Satya uses tarot and oracle cards as tools to guide and heal others, in which meditation is incorporated to help her get centered and align with her higher self. Satya is also passionate about flower and plant healing with trainings in Bach Flower Remedies. She is the author of self-published book "Star and The Dust", a compendium of poetries exploring wisdom from earth and wisdom from stars and how to bridge both.

Satya loves mathematics and science, also esoteric and metaphysical things. She loves gazing upon the stars, also walking in a garden full of flowers. She loves working with numbers, also with words. Besides growing House of Prajna with her husband, Jati, she is currently pursuing her PhD in Operations Research at North Carolina State University in the USA. Satya believes that science and spirituality are a “twin flame”; to her, both of them speak the same thing with just different languages.

Visit her on IG @satyapparamita