Living your life purpose

Akhir-akhir ini frase “life purpose” semakin sering mengudara. Seiring dengan adanya collective awakening, saya rasa wajar jika banyak orang yang terpanggil untuk mencari jati dirinya atau menemukan tujuan hidup sejatinya. Pertanyaan-pertanyaan sejenis “siapa saya sebenarnya?” dan “untuk apa saya disini?” akan mulai terlontar dari dan untuk diri kita sendiri. Don’t you worry, you are not alone.
Sebenarnya pertanyaan itu pun sudah terlontar dari dan untuk diri saya sejak lama. Sekolah, kuliah, dunia kerja membuat pertanyaan itu akhirnya terkikis dari benak dan hati saya. Sampai kemudian, dua tahun yang lalu, saya merasa itu adalah puncaknya. Puncak dimana saya merasa kehilangan arah, kehilangan tujuan hidup, dan merasa tidak mampu menyumbang hal yang signifikan untuk dunia. Saya mempertanyakan tempat saya di semesta dan di bumi ini.
Kebuntunan itu membawa saya kepada, salah satunya, adalah Amelia Devina. Amelia membimbing saya untuk melakukan shamanic journey dan past life regression pertama saya, yang menjadi salah satu gerbang awal saya mengenal spiritualitas lebih dalam. Pengalaman itu yang menjadi batu loncatan bagi saya untuk menghidupkan diri sejati dan tujuan hidup sejati saya.
 

Life purpose ≠ job

Saya bisa bilang bahwa life purpose is not only about our job .
Salah satu guru spiritual modern yang menginspirasi saya adalah Rebecca Campbell, yang percaya bahwa tujuan hidupnya adalah creative creation. Rebecca mengawali karirnya sebagai seorang copywriter hingga akhirnya di usia yang terbilang muda, 30 tahun, berhasil memperoleh jabatan impiannya sebagai creative director di sebuah perusahaan advertising ternama. Pekerjaan itu mengijinkannya untuk dapat membantu berbagai international brands dalam menemukan jati diri, dan kemudian menjadikan jati diri tersebut sebagai dasar setiap penciptaan produk dan iklan.

Justru disaat Rebecca berada di puncak karir sebagai creative director itulah, pergulatan dalam dirinya semakin menjadi. Ia terpanggil untuk hal lain, tidak lagi membantu international brands namun membantu individu-individu yang ingin menemukan diri sejati dan menjalani tujuan hidup berdasarkan kesejatian itu. Saat ini Rebecca adalah full time spiritual teacher, yang membagikan pengalaman dan ilmunya melalui berbagai workshop dan tulisannya. Salah satu bukunya yang sedang saya baca, Light is the New Black, adalah buku yang indah dan jujur. Ketika Rebecca Campbell menyadari bahwa creative creation adalah tujuan hidupnya, ia berusaha membawa nilai itu pada semua pekerjaan yang ia jalani.

Yang saya pahami, ketika life purpose sudah memanggil, panggilan itu harus dijawab. Panggilan itu tidak akan berhenti sampai kita menjawabnya. Pertama kali, panggilan itu halus. Kedua kali, suara itu menjadi erangan di dalam batin. Ketiga kali, suara itu akan berteriak keras hingga menyiksa. Hingga terakhir kalinya, kita dibawa tenggelam sedalam-dalamnya, terpuruk sejauh-jauhnya sampai kita bersedia menjawab panggilan itu dan berkata “ya”.

When your life purpose is calling, it’s actually your higher self calling, and it’s always from The Source.
Your task is answering it.

Don’t wait until you know

How about if we don’t know our life purpose?

Beberapa orang mungkin terjebak pada penantian sebuah life purpose yang akan datang mengubah hidup mereka. Saya pun sempat demikian. Saya pernah menunggu bahwa akan ada bisikan Ilahi yang memberikan petunjuk tentang apa yang harus saya lakukan di dunia ini. Saya menunggu dan menunggu. Tidak ada petunjuk. Saya tetap tidak tau apa life purpose saya sebenarnya, apa peran saya di semesta dan di bumi ini.

Until I decide to just do whatever my soul calls me to do. Do and show up everytime I can. Mungkin yang saya lakukan belum terlihat signifikan dan berdampak besar. Pertengahan 2017, saya resign dari apa yang kelihatannya merupakan sebuah dream job bagi banyak orang. Saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam workshop menulis kreatif Ayu Utami selama tiga bulan untuk kembali menghidupkan hal yang sempat saya tinggalkan. Saya memutuskan untuk menekuni Bach Flower Remedies (semoga suatu saat bisa menjadi salah satu registered practitioner) dan membangun essential oil brand skala rumahan yang saya urus sendiri dengan bantuan suami. Saya memutuskan untuk menjadi pengajar dan peneliti di salah satu universitas publik, dimana saya percaya bahwa disitulah idealisme saya setidaknya masih bisa dipertahankan (walaupun tentu tidak seideal yang saya harapkan). Saya memutuskan untuk membuka card reading untuk publik dan memulai pelan-pelan House of Prajna bersama suami saya.

Entah semua itu akan membawa saya mendekati life purpose saya atau tidak, entah semua itu akan membawa saya kepada jawaban untuk pertanyaan “untuk apa saya di sini?” atau tidak, saya hanya tidak ingin menunggu jawaban datang dari langit tanpa berbuat apa-apa. Yang saya yakini saat ini, kita tidak perlu menunggu sampai satu life purpose yang spesifik untuk dapat menjadi diri sejati kita.

How about this? Don’t just wait for it.
If you see a door opens for you, go for it. If there’s something calls you, answer it.
If your soul asks you to do something, do it. That’s how, I believe, your life purpose will find you.
Your life purpose will come to you by itself, when you start doing and showing up .

Satya

Satya

Satya uses tarot and oracle cards as tools to guide and heal others, in which meditation is incorporated to help her get centered and align with her higher self. Satya is also passionate about flower and plant healing with trainings in Bach Flower Remedies. She is the author of self-published book "Star and The Dust", a compendium of poetries exploring wisdom from earth and wisdom from stars and how to bridge both.

Satya loves mathematics and science, also esoteric and metaphysical things. She loves gazing upon the stars, also walking in a garden full of flowers. She loves working with numbers, also with words. Besides growing House of Prajna with her husband, Jati, she is currently pursuing her PhD in Operations Research at North Carolina State University in the USA. Satya believes that science and spirituality are a “twin flame”; to her, both of them speak the same thing with just different languages.

Visit her on IG @satyapparamita