Are we living in a simulation: a perspective

*Before you begin to read this article, I’d like to say that you have an absolute right to have a different opinion. What I write in this article is based on my current understanding. As I believe that none is eternal but the changing itself, so does my understanding. My understanding in the future might be different from the current one. Anyway, this is what I resonate with currently and you are free to agree, disagree, or even choose to be neutral. Cheers! 😉
Bukan sebuah kebetulan bahwa Teknik Simulasi adalah salah satu judul mata kuliah yang saya ajar di sebuah institusi pendidikan tempat saya bekerja. Seorang scientist (atau engineer) menggunakan komputer untuk membuat tiruan dari operasi berbagai macam “real-world process” — tiruan real-world process inilah yang disebut dengan simulasi. Sebuah proses yang ingin disimulasikan biasanya disebut dengan “sistem”, dan untuk mengamati sistem ini secara scientific, seringkali harus dibuat asumsi-asumsi mengenai cara sistem tersebut bekerja. Asumsi-asumsi inilah yang nantinya membentuk sebuah “model” yang digunakan untuk memahami perilaku sistem tersebut. 

Secara lebih sederhana, simulasi dibuat untuk meniru sebuah sistem nyata. Untuk meniru suatu sistem tentunya dibutuhkan informasi tentang perilaku sistem tersebut, sehingga tiruan yang dibuat sedapat mungkin mendekati sistem aslinya. Now we get the basic idea of simulation, then what is the purpose of simulating the real process? What is this for? Contoh sederhana (dan grounded), misalkan sebuah bank cabang tertentu ingin menentukan jumlah teller yang harus ditambah untuk meningkatkan proses pelayanan. Dengan kata lain, bank tersebut ingin mengetahui jumlah teller yang optimum. Jika bank tersebut harus mencoba satu per satu kemungkinan penambahan teller yang mungkin (satu teller tambahan pada minggu pertama, dua teller tambahan pada minggu kedua, dan seterusnya), tentu tidak akan efektif dari segi sumber daya manusia dan biaya. Dalam kasus ini, sebuah studi simulasi yang mensimulasikan waktu tunggu pelanggan dan waktu pelayanan jika terdapat penambahan teller sebanyak satu, dua, tiga, atau lebih, akan membantu bank dalam pengambilan keputusan

In other words, the purpose of simulation is to learn and improve, without interfering our “true” reality.

Karena sebuah dorongan, beberapa hari yang lalu saya menonton ulang trilogi The Matrix. Bukan kebetulan pula bahwa saya mengajar Aljabar Linier, dimana matriks adalah bintang dari mata kuliah tersebut. Of course matrices in linear algebra and The Matrix trilogy are different, but you’ll see the connection soon. Oh no, please don’t hate algebra, it’s just different language of art, of spirituality, of music. It’s the core of mathematics and, in fact, it’s the essence in all things around us, even inside of us. If, by any chance, you’re interested, watch this TEDx talk delivered by a Stanford’s professor titled “The beauty I see in algebra” (video yang juga saya berikan ke mahasiswa saya di kelas Aljabar Linier).

Dalam The Matrix, seorang tokoh bernama Morpheus berkata “The matrix is everywhere. It’s all around us.”, yang saya setuju, meskipun arti harfiah atau literal “matrix” dalam film berbeda dengan artinya dalam matematika. The Matrix yang menjadi topik utama film ini adalah sebuah sistem yang mensimulasikan sinyal elektrik (berupa penglihatan, perasaan, pendengaran, etc.) dan menanamkannya kepada manusia yang terhubung dengannya, sehingga membuat manusia tersebut percaya bahwa mereka sedang melihat/merasakan/menyentuh/mendengar realita. Dalam film ini, manusia menjalani kehidupan dalam sebuah simulasi, dan realita sejati di luar simulasi ini hanya dapat mereka pahami ketika mereka “terbangun” (in spirituality, we also use the word “awakening”).

Keanu Reaves, yang memerankan tokoh utama bernama Neo dalam The Matrix, sempat mengungkapkan bahwa “The Matrix was a documentary”. Meaning, to him, The Matrix was not a fiction. So, according to him, it’s true that we’re currently living in a computer simulation and the “real” us is waiting outside the simulation which is in the “real” world. Sounds familiar? I believe that you heard this many many times, especially if you’re currently on a spiritual path, it’s just with different language. In the context of spirituality, we know the term of the “higher self”. Spiritually, we believe that the reality that we’re living now is not real, it’s just a dream, a long long long dream, it’s a temporary reality — this is also the essence of A Course in Miracle.

The term “awakening” in spirituality would then refer to a state when we detach ourselves from this temporary reality and, therefore, connect to our higher self, our true self outside this unreal reality.

Anyway, is it possible that we are currently live in a computer simulation?

Such a big question, right? Untuk menjawab pertanyaan besar tersebut, perlu dipahami terlebih dahulu karakteristik dari sebuah simulasi. Belakangan ini, saya sedang menonton sebuah series menarik berjudul “Missing Links” yang dibawakan oleh Gregg Braden, yang membahas tentang kemungkinan kita hidup dalam realita virtual. Beberapa insights dari series tersebut tentang karakteristik simulasi.

  • Sebuah simulasi selalu memiliki awal dan akhir. Ada masa dimana simulasi tersebut berawal dan ada masa dimana simulasi tersebut berhenti (in algorithm, we call it stopping rule).
  • Hal-hal yang terjadi diantara awal dan akhir dari sebuah simulasi adalah berdasarkan algoritma matematika, sebuah ritme dari siklus pada pola yang berulang terus-menerus dalam skala yang bervariasi.
  • Dalam simulasi, terdapat aturan-aturan (rules) yang mengatur jalannya simulasi tersebut. Ketika users yang dalam simulasi menjadi semakin familiar dengan lingkungan, dengan kata lain mereka mengenali lingkungan dengan lebih baik, maka hidup akan menjadi lebih baik. Mereka menjadi lebih baik dengan cara belajar dan mengaplikasikan “aturan-aturan” tersebut.
  • Dalam simulasi, users mempunyai akses ke realita lain yang berada di luar simulasi. Users selalu dapat mengakses realita eksternal untuk mendapatkan petunjuk atau meminta bantuan, dan berkomunikasi dengan realita yang berada di luar simulasi.  
  • Ketika berada dalam simulasi, users tidak dapat membedakan lagi antara dunia simulasi dan dunia nyata. Justru inilah poin penting simulasi, seperti yang saya ceritakan di awal, bahwa simulasi memang harus dibuat semirip mungkin dengan realita.

Again, sounds familiar?

Of course, it sounds familiar. Karena memang kelima karakteristik itu ada dalam dunia yang sedang kita hidupi saat ini.

  • Karakteristik pertama, checked. Bing bang, cerita tentang Adam dan Hawa, cerita tentang awal mula penciptaan; science, agama, dan pandangan spiritual sama-sama sepakat bahwa ada awal dari dunia yang kita tinggali ini, meskipun tentu terdapat variasi pendapat. Matahari menjadi supernova, kiamat, pergantian siklus peradaban; lagi-lagi science, agama, dan pandangan spiritual sepakat bahwa akan ada akhir dari dunia ini, meskipun sudut pandangnya berbeda.
  • Karakteristik kedua, checked. Siklus ekonomi, siklus human conflict, siklus iklim, musim, siklus menstruasi, siklus bercocok tanam, siklus bulan, bahkan sesederhana siklus terbit dan tenggelam matahari; it’s all about cycles.
  • Karakteristik ketiga, checked. Absolutely we have a lot of rules governing our life and our society. The existence of country, religion, language, social norm, educational level, law, bahkan sesederhana aturan jam masuk dan pulang kantor atau sekolah; they’re all rules. Who creates them? We did.
  • Karakteristik keempat, checked. Ketika kita gundah atau merasa tidak melihat jalan keluar, we pray, we meditate, we ask guidance from God, from Spirits, from Ascended Masters, from ancestors, and of course from our higher self. They are all outside this world, and yet, we can still make a contact with them — well, only if you know how.
  • Karakteristik kelima, checked. Absolutely checked. Well, it’s like having a dream. It feels so real until we awake and realise that it’s just a dream. But, how do we know which one is real, which one is unreal? What is reality, anyway? Indeed, we don’t know.

I know this writing could be getting longer and more complex. So, for now, I’ll just stop here. I’ll continue this topic in the next posts in which I will cover some ideas.

  • A scientific paper written by an Oxford’s physicist and philosopher Nick Bostrom titled “Are you living in a computer simulation?” (read it in advance if you’re curious)
  • If it’s true that we’re living in a simulated world, what is the purpose and why we need to be in a simulation
  • If it’s true that we’re living in a simulated world, who build this simulation
  • If it’s true that we’re living in a simulated world, what is the limitation of this simulation in terms of time and complexity. I will tell a beautiful story about fractal to discuss that matter.

Seems like I need to cover them all in two or three more articles. But, I feel excited. Hope you’re excited too 😉

I would like to end this writing with a beautiful statement from Chuang Tzu, a Chinese philosopher, after experienced a dream about being a butterfly.

“I dreamed I was a butterfly, flying in the sky; then I awoke. Now I wonder, am I a man who dreamt of being a butterfly, or am I a butterfly dreaming that I am a man?”

(to be continued)
Satya

Satya

Satya uses tarot and oracle cards as tools to guide and heal others, in which meditation is incorporated to help her get centered and align with her higher self. Satya is also passionate about flower and plant healing with trainings in Bach Flower Remedies. She is the author of self-published book "Star and The Dust", a compendium of poetries exploring wisdom from earth and wisdom from stars and how to bridge both.

Satya loves mathematics and science, also esoteric and metaphysical things. She loves gazing upon the stars, also walking in a garden full of flowers. She loves working with numbers, also with words. Besides growing House of Prajna with her husband, Jati, she is currently pursuing her PhD in Operations Research at North Carolina State University in the USA. Satya believes that science and spirituality are a “twin flame”; to her, both of them speak the same thing with just different languages.

Visit her on IG @satyapparamita