Let’s talk (a bit) about spirituality

Sejauh yang saya ingat, ketika saya berumur sekitar 12-13 tahun, saat itu saya menyadari dan yakin bahwa: there’s something out there, something bigger than this. Di masa kecil, kerap kali saya memandang langit di malam hari yang penuh dengan bintang sambil mengira-ngira dimana ujungnya langit itu, apakah ada kehidupan lain di dalam bintang-bintang itu, atau mengapa kita ada disini.
Tahun berlalu sejak masa itu, saya bertemu (secara langsung dan tidak langsung) dengan para guru yang hadir untuk menyambut pemikiran-pemikiran yang saya simpan sejak kecil. Bahkan semakin lama, semakin banyak pula orang-orang dengan pemikiran yang sama hadir dalam kehidupan sehari-hari saya. Semakin mudah pula ditemukan sarana dan aktivitas untuk memperdalam spiritualitas pada berbagai level. Banyak yang menganggap hal tersebut adalah trend: studio yoga menjamur, banyak orang yang tertarik untuk ikut kelas meditasi, makanan sehat dan vegetarian ada di mana-mana, banyak guru spiritual yang muncul ke permukaan dengan berbagai metode berbeda. Katanya, “sekarang sedang trend-nya menjadi spiritual”.
Bagi saya tidak demikian. Aktivitas spiritual dan spiritualis yang semakin mudah ditemukan saat ini bukanlah sebuah trend.Saya yakin orang-orang yang tergerak memperdalam spiritualitas (dengan cara apapun) adalah mereka yang “sadar” dan ingin bertemu dengan dirinya yang sejati. Mungkin awalnya kita tergerak karena keluarga dan kerabat yang menawarkan, mungkin karena kita terinspirasi dari idola atau orang yang kita kagumi, mungkin karena ajakan atau bujukan pasangan kita, mungkin karena tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita alami, mungkin karena iseng atau sekedar ingin tahu, dan segala kemungkinan-kemungkinan lainnya. Apapun awalnya, bukanlah sebuah kebetulan bahwa pada akhirnya kita memperdalam spiritualitas hingga hari ini.

Saya justru melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang sakral, bahwa aktivitas spiritual dan spiritualis yang semakin mudah ditemukan saat ini adalah bentuk fisik dari collective awakening. It’s the time. Memang ini adalah waktu dimana semakin banyak orang yang “sadar” dan ingin bertemu dengan dirinya yang sejati. Ada beberapa hal mulai kita rasakan beberapa tahun terakhir ini, sebagai bentuk fisik dari collective awakening lainnya.

  • Bangkitnya feminitas kembali setelah sekian lama kehidupan kita didominasi oleh maskulinitas. Percayalah bahwa apapun jenis kelamin kita, kedua sisi feminin dan maskulin yang sudah ada dalam diri kita harus diseimbangkan.
  • Munculnya komunitas-komunitas kecil yang mengedepankan kolaborasi alih-alih kompetisi. Prinsip mereka adalah “when we lift others, we lift ourself”.
  • Semakin banyak usaha mikro, kecil, menengah dengan prinsip ramah lingkungan dan kekeluargaan muncul ke permukaan. Bahkan mereka berpotensi menjadi pesaing dari usaha besar yang tidak mengindahkan prinsip tersebut.
  • Semakin banyak anak-anak muda atau mereka yang berjiwa muda menyuarakan kebenaran – they are bold, wild, and have no fear in breaking the old rules that no longer serving our society.
 

Modern Spritualist

Dalam salah satu dharma talk-nya, Guruji Gede Prama mengatakan bahwa ada dua jalan spiritual secara umum. Yang pertama adalah dengan menjauhi ‘pohon kehidupan’. Jika pohon kehidupan diibaratkan sebagai pohon beracun, penuh godaan, maka orang yang memilih jalan pertama ini akan menjauhkan dirinya dari hal-hal bersifat duniawi. Mereka yang menjauhi ‘pohon kehidupan’ adalah para biksu/biksuni yang menghabiskan hidupnya di tempat suci atau para pertapa yang menghabiskan hidupnya di hutan dan goa yang jauh dari keramaian. Mereka memilih untuk tidak terlibat dalam urusan duniawi, seperti pernikahan, pekerjaan, materi, politik, maupun pemerintahan.
Jalan spiritual kedua adalah dengan cara sebaliknya, yaitu mendekati ‘pohon kehidupan’. Spiritualis di jalan ini memilih untuk mendekati pohon beracun dan penuh godaan bernama kehidupan justru untuk menjaga agar tidak ada orang yang terkena racun dan tergoda oleh pohon tersebut. Mereka justru masuk dalam kehidupan duniawi bahkan bekerja sebagai pejabat, guru (dalam bidang apapun), pegiat sosial, penari, pelukis, peneliti, penulis, pendongeng, chef, atlit, pengacara, akuntan, psikolog, dokter, dan lainnya untuk membantu orang-orang disekitarnya mencapai “kesadaran” dengan cara unik mereka masing-masing.

Saya menyebut spiritualis yang mendekati ‘pohon kehidupan’ sebagai modern spiritualist.  Bagi saya seorang modern spiritualist adalah mereka yang menyalakan cahaya untuk orang-orang disekitarnya melalui profesinya masing-masing dan dengan cara sesederhana apapun. Ibu rumah tangga yang merawat keluarganya dengan tulus, guru yang menginspirasi murid-muridnya, pejabat yang jujur menjalankan amanah rakyat, peneliti yang memberikan dampak pada kemanusiaan, seniman dengan karyanya yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan, mereka adalah modern spiritualist.

Spirituality is not only about the ability to see the unseen or the ability to know your past-life. It’s only a small part of a word ‘spiritual’. To me, if we commit to spark our light and share it to others, we are doing the ‘real’ spiritual work.

If you’re reading this post now, there’s a big chance that you’re absolutely a modern spiritualist. Yes, you are!

Start With The Basics

Secara pribadi saya membutuhkan praktek spiritual yang dapat saya lakukan sehari-hari untuk mengistirahatkan (=menjauhkan) diri saya sejenak dari ‘pohon kehidupan’. Praktek spiritual ini semata-mata saya lakukan terutama untuk diri sendiri yang juga akan berdampak ke orang-orang disekitarnya saya. Tujuan saya sederhana: bersekutu dengan diri sejati sehingga saya mampu menyalakan cahaya dan berkontribusi dengan cara saya sendiri. Tentu ada banyak metode dan cara dalam praktek spiritual, dari mulai yang simple sampai yang rumit. I started with the basic ones: yoga and meditation.

Para peserta yoga memang datang dengan tujuan dan harapan yang bervariasi. Bagi saya, yoga bukan hanya sekedar olahraga menggerakkan bahkan melenturkan badan. My own definition of yoga is an art of aligning our body with our mind, and vice versa. Dalam yoga, kita dijinkan untuk menjadi diri sendiri dan menerima tubuh kita apa adanya. Sejauh yang saya ketahui, tidak ada kompetisi untuk cabang olahraga yoga — yoga memang kurang tepat juga apabila hanya digolongkan sebagai olah-raga, tetapi juga olah-jiwa. Alasan saya menyukai yoga sebagai salah satu praktek spiritual adalah bahwa yoga selalui diawali dan diakhiri dengan olah pernapasan atau yang biasa disebut dengan pranayama (olah tubuh atau gerakan tubuhnya disebut dengan asana). Sadar atau tidak, napaslah yang menjembatani kita dengan masa kini. Of course I always prefer yin yoga or hatha yoga, because my body is quite stiff :p

Beberapa orang pernah bertanya pada saya, mengapa kita perlu meditasi padahal sudah berdoa? Well, I can say that prayer and meditation is not the same thing. Saya sangat setuju bahwa:

in prayer we ask, in meditation we listen.

Ketika kita berdoa, kitalah yang berbicara kepada Sang Sumber — memohon rahmat, berkat, petunjuk, ampunan, dan lain sebagainya. Have you ever thought that The Source also wants to tell you something? Saya melakukan meditasi karena saya merasa kadang petunjuk Sang Sumber bisa saya dengarkan dengan lebih baik ketika saya diam dan bersekutu dengan diri sejati saya. Dan meditasi membantu saya untuk itu. Seringkali inspirasi dan ide mengalir ketika dan/atau setelah bermeditasi karena saat meditasi kita berada dalam apa yang disebut dengan pure state of awareness.Meditasi mungkin adalah satu-satunya praktek spiritual dapat dilakukan tanpa instrumen apa-apa, yang kita butuhkan hanya intensi baik dan murni. Musik instrumental, lilin, dupa, kristal hanyalah alat bantu. You don’t even need to spare some special time to meditate. If you don’t have enough time to join meditation class, you can do it at home — 30 minutes is good but 5 minutes is also perfect. If you’re about to start your spiritual practice, indeed meditation is essential.

As closing, I’d like us to remember one of my favourite quotes:

We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.”

–  Pierre Teilhard de Chardin

Satya

Satya

Satya uses tarot and oracle cards as tools to guide and heal others, in which meditation is incorporated to help her get centered and align with her higher self. Satya is also passionate about flower and plant healing with trainings in Bach Flower Remedies. She is the author of self-published book "Star and The Dust", a compendium of poetries exploring wisdom from earth and wisdom from stars and how to bridge both.

Satya loves mathematics and science, also esoteric and metaphysical things. She loves gazing upon the stars, also walking in a garden full of flowers. She loves working with numbers, also with words. Besides growing House of Prajna with her husband, Jati, she is currently pursuing her PhD in Operations Research at North Carolina State University in the USA. Satya believes that science and spirituality are a “twin flame”; to her, both of them speak the same thing with just different languages.

Visit her on IG @satyapparamita